LENSAINDONESIA.COM: Ali Manshur (52), guru di Madrasah Aliyah Mambail Futuh, diwilayah Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, rumahnya pernah terancam abrasi. Namun, dari ancaman ini justru membawanya meraih penghargaan kalpataru dari Presiden SBY tahun 2012 lalu.
Tak ingin rumahnya dan tanahnya tergerus ombak laut, Ali Mashur kemudian melakukan penanaman htan mangrove di sekitar pekaranagan rumahnya. Itu dilakukannya puluhan tahun lalu. Kini ancaman abrasi itu telah jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.
Usaha ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, pasalnya dia harus konsisten puluhan tahun. Bahkan, harus sendirian menghijaukan kawasan pantai Tuban dengan tanaman mangrove. Tak jarang harus mengeluarkan uang dari kocek pribadinya.
Saat dikonfirmasi, di kawasan Mangrove Centre Tuban, Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Selasa (26/11/2013) guru Biologi ini, menceritakan perjalanan hidupnya saat mengawali upaya penyelamatan pantai dari abrasi hingga berbuah penghargaan.
Kawasan pantai Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban pada tahun 1958 sampai tahun 1970 adalah hutan kelapa. Namun karena diserang hama, pada tahun 1971 hutan lenyap. Kawasan ini kemudian menjadi lahan kosong dan gundul. Oleh para pemiliknya, pasir dijual untuk pembangunan jalan kawasan Kecamatan Merakurak-Kecamatan Montong.
Akibatnya, garis pantai di sepanjang Kecamatan Jenu semakin rusak. Tak hanya gundul, kumbangan bekas galian kian banyak. Ketika laut pasang bibir kubangan pun ambrol, pantai kian merangsek ke arah pemukiman.
Fenomena ini terus berlangsung, ingga terjadi rob pada tahun 1975. Rumah Ali Manshur yang semula berjarak 300 meter dari laut, akhirnya tinggal beberapa meter saja. 'Dari sinilah saya mulai menanam karena khawatir rumah saya ikut hancur,' alasannya.
Bapak 2 anak ini sempat dianggap gila oleh warga sekitarnya. Namun cibiran ini tidak membuat usahanya surut. Pada tahun 1997 dia mulai mendapat dukungan dari masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Wanahari.
Sejak saat itu ia semangatnya kian membara, karena memiliki komunitas untuk menyelamatkan pantai Tuban. Kemudian, mulai tahun 1998 hingga 2001 membentuk 12 kelompok tani serupa, yang tergabung dalam Forum Komonukasi Peduli Lingkungan Pesisir Pantai Tuban (FKPLPT). Upaya penanaman bakau berhasil dilakukan di beberapa kawasan di Kabupaten Tuban.
'Akhirnya sampai terbentuk Yayasan Mangrove Centre. Kami bangkit untuk membuat bibit. Status tanah ini milik pribadi, tapi sudah saya waqafkan ke yayasan. 56 hektar tanah milik anggota, 1,8 milik sendiri, lainya milik desa dan paman saya,' terangnya.
Ali mengaku sangat terharu bila ada orang yang turut peduli. ' Misalnya ada yang mau membeli tanah dan diwaqafkan ke Mangrove Centre, alangkah indahnya juga. Dengan semboyan, Bersama Kita Bisa,' ungkapnya.
Atas jerih payah puluhan tahun itu, kini hasilnya telah dapat dirasakan, kawasan Pantai Jenu berubah hijau. Tak urung Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pun memberi apresiasi dengan memberinya penghargaan Kalpataru pada tahun 2012.
'Sekarang pengunjung di Mangrove Centre Tuban ini perbulanya antara 20 sampai 30 ribu orang. Dengan 52 pedangan menetap dan 82 pedagang keliling. Mereka semua tidak kita tarik retribusi. Justru para pedagang membuat paguyuban atau koperasi sendiri,' ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, bersama PT Semen Indonesia juga melakukan penghijauan kawasan pantai sejauh 4 km. 'Sekarang kita sudah budidaya 214 jenis tanaman mangrove. Selain itu kita sudah memiliki plasma (jaringan) di Jatim 4 tempat. Di Kabupaten Rembang (Jateng) 2 tempat. Total yang sudah kita tanam jutaan pohon, 236 hektar dan cemara 16 km, dengan ketebalan 50 sampai 80 meter,' paparnya.@muhaimin
No comments:
Post a Comment